Wedding Trisno Jalaran Soko Kulino

Senin, 29 Juni 2009

KANGEN BAND

Kangen Band – Terbang Bersamamu


berhembuslah engkau angin malam

bawa serta laguku

mengitari bumi ini hingga jauh


akulah seorang petualang

yang mencari cinta sejati

sampai mati aku akan tetap mencari


aku bagai biola yang tak berdawai

bila tidak engkau lengkapi

aku mohon agar engkau tinggal di sini


hamparan pasir putih menunggu

karang di lautan menangis

bila aku tak bisa melumpuhkanmu


reff:

peluk erat tubuhku

sentuhlah jemariku

rebahkan sayap-sayap patahmu

dan terbanglah bersamaku

tuk melintasi langit ke tujuh

bawalah aku ke alam damaimu


peluk erat tubuhku

sentuhlah jemariku

rebahkan sayap-sayap patahmu


repeat reff



Lirik lagu Kangen Band – Terbang Bersamamu ini dipersembahkan oleh MbokdeMU. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Kangen Band – Terbang Bersamamu.

Keinginan

Keinginan adalah wujud rasa sok tahu kita....

Kita tidak pernah tahu apa yang terbaik buat diri kita...

Kita ingin harta, tapi sebenarnya kita tidak tahu apakah harta tersebut itu akan membuat kita menuju kebaikan ataukah malah justru akan membinasakan kita...

Kita inginkan pangkat, jabatan dan kedudukan tapi sebenarnya kita tidak pernah tahu manfaatnya...

dan keinginan-keinginan keduniawian lainnya yang kita sendiri tidak tahu untuk apa...

Hanya keinginan akan akhirat yang pasti terbaik bagi kita karena disanalah tempat kita kembali 

Perjalanan

Seperti biasanya, tiap minggu aku harus balik ke Jakarta untuk mengabdi pada negaraku. Pada hari rabu sebenarnya aku udah berusaha untuk beli tiket Senja Utama Solo tapi kata petugasnya sudah habis tiket untuk tanggal 28 Juni 2009. Tidak menyerah, pada hari minggu aku mencoba ke stasiun lagi untuk beli tiket tapi jawaban petugasnya sama "TIKET HABIS". Dengan terpaksa pada hari minggu ini aku tidak beli karcis. Sorenya, aku ke stasiun lagi untuk berangkat ke Jakarta. Sampai di Stasiun pukul 17.45 padahal keretanya berangkat jam 18.00. Dengan rentang waktu hanya 15 menit rasanya tidak mungkin untuk beli tiket karena antrian di loket begitu panjang. Salah satu kesalahan stasiun balapan adalah tidak memisahkan loket untuk penjualan langsung dan loket untuk pesanan. Karena takut ketinggalan kereta dan untuk mengejar sholat maghrib dan isya' akhirnya aku masuk dengan tiket peron, tanpa karcis. Jam 6 tepat kereta berangkat, aku duduk digerbong 1 yg penumpangnya masih sedikit karena gerbong 1 memang disediakan untuk penumpang dari Jogja. Lumayan lah kurang lebih satu jam aku bisa duduk di kursi. Begitu tiba di Stasiun Tugu, gerbong langsung penuh dengan penumpang dan otomatis aku harus duduk dibawah karena aku tidak dapat jatah kursi. Walaupun tanpa karcis bukan berarti aku "nembak" lho. Aku tetap beli karcis ke petugasnya, beli di dalam kereta. Orang menyebutnya itu tiket suplisi. Ada yg aneh dalam tiket tersebut, memang untuk harganya sama dengan tiket resmi tapi kok kayaknya yang masuk ke kas PJKA hanya separonya. Di tiket tersebut tertulis bea Rp 62.500 dan tambahan Rp 62.500. Kalau memang tiket itu resmi harusnya hanya tertulis Rp 125.000, tidak usah pake embel-emebel bea dan tambahan. Ya udahlah kalaupun petugasnya berbohong itu urusan dia, yang penting aku dah beli tiket ke petugas sesuai harga resminya. Selama perjalanan dari Jogja sampe ke Jakarta terpaksa aku harus lesehan dibawah, deket WC lagi karena hanya itu tempat yg agak longgar. Tetapi "kenyamanan" tidak berlangsung lama, masuk Stasiun Cirebon banyak penumpang yang masuk. Semakin penuh saja gerbong dengan penumpang sehingga untuk selonjor aja susah. Kalau untuk berbagi tempat dengan mereka aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tetapi yang membuat aku jadi muak adalah mereka masuk dengan seenaknya, tanpa sopan santun dan tanpa tiket. Mereka aadlah penumpang gelap. Tidak hanya itu, mereka adalah perokok. Udah suasana di dalam gerbong panas, masih juga merokok. Dimana otak mereka? dimana tepo sliro mereka? Aku hanya bisa membatin dan menggrundel selama perjalanan dari Cirebon sampai Jakarta. Akhirnya jam 04.45 kereta sampai di Stasiun Jatinegara. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.....

Rabu, 24 Juni 2009

Grade 8

Antara bersyukur dan rasa "nggrundel" itulah kondisi yang sedang kualami bila mengingat grade 8. Aku lulus tidak pada waktu yang tepat. Itulah kesimpulan prematurku. Tapi kalau aku berpikiran seperti itu aku takut menjadi orang yang tidak bersyukur. Berawal dari Kelulusan kuliahku pada bulan Juli 2008. Setelah lulus otomatis pangkatku menjadi IIIa sebelumnya aku masih IId. Tetapi kenaikan pangkat itu tidak diikuti oleh kenaikan grade. Sebelum ada PMK-190/2008 (lupa aku nomornya) untuk pangkat IIIa range gade yang diberikan adalah 8 sampai dengan 10. Selisih penghasilan antara grade 8 dengan grade 9 sangat signifikan yaitu sekitar 2 jutaan. Grade 8 adalah grade terendah untuk golongan IIIa dan merupakan grade untuk pegawai hukuman. Setlah kenaikan pangkat menjadi IIIa kami sangat berharap agar segera dievaluasi grade kami (pegawai tugas belajar menempati grade 8). Namun apa dikata gara-gara PMK-190 evaluasi grading ditunda sampai dengan saat yang tidak ditentukan sehingga sampai sekarang (udah hampir 1 tahun) aku masih di grade 8. Ada sisi ketidakadilan disini, bagi pegawai yang sudah terlanjur di grade tertinggi dia akan terus berada di grade tersebut tanpa memperhitungkan kinerjanya, begitu juga bagi pegawai di grade terendah. Dia akan terus berada di grade tersebut meskipun kinerjanya sangat baik. Yang lebih menyesakkan lagi, Kami yang penempatan di kantor pusat (tempat favorit dan biasanya menempati grade tertinggi) masih harus bertahan di grade terendah samapai dengan waktu yang tidak ditentukan. Belum lagi bagi saya yang jauh dari keluarga, setiap bulan saya harus mengeluarkan biaya sekitar satu juta rupiah untuk ketemu dengan keluarga itupun seminggu sekali. Bersambung.....

Selasa, 23 Juni 2009

Bukit Berbunga

Tak sengaja aku menemukan lagu Bukit Berbunga yang dinyayikan oleh Uci Bing Slamet. Langsung memori ini meluncur saat aku masih SD. Meskipun pada waktu itu aku mendengarnya dari radio. Maklum pada tahun 1990an di kampungku belum ada TV. Jangankan TV, listrik aja belum ada. Teringat masa kecilku, masa yang indah. Seandainya bisa kembali ke masa itu. tetapi kenapa ya ketika mengingat masa kecil aku langsung terharu? Aku bersedih sekaligus bangga. Aku bersedih bukan karena aku hidup prihatin tetapi justru rasa prihatin itu yang membuat aku bangga. aku berada disekitar orang-orang hebat, ibuku, bapakku, dan saudara-saudaraku. Sungguh besar rasa hormatku pada mereka, pada jasa mereka dan pada support mereka. Meskipun dari keluarga tidak mampu tetapi bapakku selalu memperhatikan pendidikanku. Orang tuaku rela malu berhutang kesana kemari demi pendidikan anaknya. Rela menempuh perjalan puluhan kilo bersepeda untuk mendapatkan sesuap nasi. Ya Allah jangan jadikan aku anak yang durhaka. Berikan aku kesempatan untuk membalas jasa-jasa mereka. Muliakanlah mereka ya Allah.

Futsal

Sebenarnya darimana sich olahraga yang satu ini?..hari ini aku mau futsal. Sudah seminggu gak mainin bola. Jadi kiper atau jadi penyerang ya? dua-duanya posisi kesukaanku. Jadi kiper senengnya bisa "ngambruk2", kalau jadi striker puasnya ketika mencetak gol. Meskipun sangat bertentangan namun kedua posisi tersebut menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Hari ini tim P2 mau ngadu sama tim keuangan. Semoga untuk kali ini bisa menang.

Rabu, 17 Juni 2009

Rindu Berat

Sudah hampir dua minggu aku tidak ketemu anakku. Minggu kemaren aku gak bisa mudik karena harus menghadiri acara pernikahan temen. Wajah anakku selalu terbayang. Hanya dengan telepon aja tidak cukup untuk mengobati rasa kangen. semakin aku denger suaranya semakin aku kangen padanya. Semoga ia disana baik-baik saja, sehat, tidak rewel dan tambah pinter.