Seperti biasanya, tiap minggu aku harus balik ke Jakarta untuk mengabdi pada negaraku. Pada hari rabu sebenarnya aku udah berusaha untuk beli tiket Senja Utama Solo tapi kata petugasnya sudah habis tiket untuk tanggal 28 Juni 2009. Tidak menyerah, pada hari minggu aku mencoba ke stasiun lagi untuk beli tiket tapi jawaban petugasnya sama "TIKET HABIS". Dengan terpaksa pada hari minggu ini aku tidak beli karcis. Sorenya, aku ke stasiun lagi untuk berangkat ke Jakarta. Sampai di Stasiun pukul 17.45 padahal keretanya berangkat jam 18.00. Dengan rentang waktu hanya 15 menit rasanya tidak mungkin untuk beli tiket karena antrian di loket begitu panjang. Salah satu kesalahan stasiun balapan adalah tidak memisahkan loket untuk penjualan langsung dan loket untuk pesanan. Karena takut ketinggalan kereta dan untuk mengejar sholat maghrib dan isya' akhirnya aku masuk dengan tiket peron, tanpa karcis. Jam 6 tepat kereta berangkat, aku duduk digerbong 1 yg penumpangnya masih sedikit karena gerbong 1 memang disediakan untuk penumpang dari Jogja. Lumayan lah kurang lebih satu jam aku bisa duduk di kursi. Begitu tiba di Stasiun Tugu, gerbong langsung penuh dengan penumpang dan otomatis aku harus duduk dibawah karena aku tidak dapat jatah kursi. Walaupun tanpa karcis bukan berarti aku "nembak" lho. Aku tetap beli karcis ke petugasnya, beli di dalam kereta. Orang menyebutnya itu tiket suplisi. Ada yg aneh dalam tiket tersebut, memang untuk harganya sama dengan tiket resmi tapi kok kayaknya yang masuk ke kas PJKA hanya separonya. Di tiket tersebut tertulis bea Rp 62.500 dan tambahan Rp 62.500. Kalau memang tiket itu resmi harusnya hanya tertulis Rp 125.000, tidak usah pake embel-emebel bea dan tambahan. Ya udahlah kalaupun petugasnya berbohong itu urusan dia, yang penting aku dah beli tiket ke petugas sesuai harga resminya. Selama perjalanan dari Jogja sampe ke Jakarta terpaksa aku harus lesehan dibawah, deket WC lagi karena hanya itu tempat yg agak longgar. Tetapi "kenyamanan" tidak berlangsung lama, masuk Stasiun Cirebon banyak penumpang yang masuk. Semakin penuh saja gerbong dengan penumpang sehingga untuk selonjor aja susah. Kalau untuk berbagi tempat dengan mereka aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tetapi yang membuat aku jadi muak adalah mereka masuk dengan seenaknya, tanpa sopan santun dan tanpa tiket. Mereka aadlah penumpang gelap. Tidak hanya itu, mereka adalah perokok. Udah suasana di dalam gerbong panas, masih juga merokok. Dimana otak mereka? dimana
tepo sliro mereka? Aku hanya bisa membatin dan menggrundel selama perjalanan dari Cirebon sampai Jakarta. Akhirnya jam 04.45 kereta sampai di Stasiun Jatinegara. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.....